
Prolog
Tahun 838 M di desa Prambanan.
Dengan tubuh gemetar dan lemas akibat kehilangan darah yang banyak, ia melontarkan peringatan berisi ancaman untuk terakhir kalinya. Pandangannya tak lepas dari dua sejoli di hadapannya, adik kandungnya dan suaminya yang berbuat nista di belakangnya.
“Jangan kau pikir ini sudah berakhir. Jasadku mungkin sudah hancur dimakan oleh cacing tanah, tapi dendamku tak akan pernah surut. Akan ku siksa dan ku buat hidup anak turunmu menderita hingga mereka merasa menyesal pernah dilahirkan ke dunia ini. Kelak jika kamu melahirkan bayi laki-laki maka ia tak akan berusia lebih dari sepekan, tapi jika ia perempuan……”. Ia sengaja menggantung ancamannya untuk memberi efek mengintimidasi lawan. Ia mendesis lirih, tapi tak berusaha menyembunyikan kemarahannya.
Tak ada satupun yang sanggup memandang wajahnya lebih dari semenit terutama saat ini ketika kemarahannya memuncak, meskipun ia berparas cantik bahkan lebih cantik dari gadis yang berdiri berdampingan dengan pemuda tampan yang balik menatapnya jijik. Seulas senyum dingin menghiasi bibinya yang merah delima. Sorot matanya yang tajam, menyiratkan kekejaman dan dendam membara yang sudah mengurat daging hingga ke sumsum tulang. Kengerian akibat tatapan matanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, tapi bisa dirasakan dari tubuh yang gemetar dan gigi gemeletuk dari pasangan muda-mudi itu.
“Aku akan mendatangi tiap keturunan perempuanmu yang ke-7. Mereka akan mewarisi seluruh ilmu setanku seperti katamu. Melalui tangannyalah akan ku balaskan seluruh dendamku pada semua umat manusia sampai mereka menyesal telah lahir ke dunia ini. Dan kalian akan menangis darah melihat anak cucumu berubah sepertiku, menjadi wanita iblis, penganut ajaran setan. Ha ha ha …..”. Ia tertawa melengking menyayat hati, mampu membuat setiap orang yang mendengarnya bergidik ngeri, mengerahkan seluruh energi yang tersisa, untuk terakhir kalinya sebelum ajal menjemputnya.